Anak Semut dan Pohon Tua

Kicauan burung-burung memecah kesunyian dalam keheningan. Matahari pun agak sedikit malas mengeluarkan sinarnya, takut pohon-pohon tua yang tertidur terbangun dari tidurnya karena semalam gonggongan anjing liar memekakkan telinga. Tapi sedikit-sedikit matahari pun memberanikan mengeluarkan pancaran sinarnya takut awan mendung mendahului nya. Suasana hutan pun jadi hangat. Semut hitam pun keluar dari sarangnya, satu persatu keluar dengan wajah yang penuh keceriaan menyambut pagi yang agak cerah itu. Tampak yang kepala besar itu memberikan pengarahan kepada yang lainnya, tak salah lagi ialah pimpinan kelompok semut yang menguasai daerah itu. Dengan segera segerombolan semut yang berjumlah 100 ekor itu bergerak cepat berburu makanan yaitu ulat, atau biji-bijian yang biasa mereka dapatkan di pepohonan.Hal ini dkarenakan akhir-akhir ini perubahan cuaca sering berubah tidak menentu, memaksa segerombolan semut ini lebih giat dan cepat mengumpulkan makanan karena was-was banjir bisa terjadi kapan saja. Terakhir banjir menyapu daerah itu sekitar 2 bulan yang lalu sehingga meninggalkan bekas luka yang mendalam bagi penghuni hutan itu. Lima belas tahun yang silam, hutan ini dipenuhi dan dihuni oleh berbagai spesies hewan maupun tumbuhan sehingga semua makhluk di hutan ini tidak pernah kesulitan untuk mendapatkan makanan karena semuanya tersedia di sini, termasuk semut. Tapi sekarang semua sudah berubah, pepohonan hampir tidak ada lagi, hewan-hewan penghuni hutan ini semakin berkurang, baik karena diburu oleh manusia yang serakah maupun karena tersapu oleh banjir yang juga dikarenakan oleh manusia. Karena tidak jarang penebangan secara liar dilakukan besar-besaran oleh manusia yang bertopeng keserakahan sehingga keseimbangan ekosistem pun tidak terjaga. Yang pada akhirnya alam lah yang disalahkan yang selalu memberikan kerusakan. Sedangkan manusia duduk santai memetik secuil keuntungan dari penderitaan alam, dengan sombongnya merasa puas bisa memperkosa alam. Sangat ironis. Gerombolan semut pun tiba di pedalaman hutan, perjalanan kali ini agak jauh dikarenakan tempat sekarang mereka tempati pepohonan hampir tidak ada lagi sehingga biji-bijian sangat sulit mereka dapatkan. Sang komandan pun langsung memberi instruksi kepada yang lainnya untuk bergegas mengumpulkan makanan. Tak kecuali semut kecil pun ikut, sehingga mencuri perhatian sang komandan. Komandan pun bertanya perihal mengapa ia ikut mengumpulkan makanan dan kemana orang tuanya. Semut kecil itu pun menjelaskan dengan penuh semangat tanpa ada keraguan dalam hatinya, ia berkata “kedua orang tua ku telah menjadi korban banjir dua bulan yang lalu dan aku bertekad agar banjir itu tidak kembali menghancurkan impian ku dan anak cucuku, kelak mereka tidak akan merasakan apa yang kurasakan sekarang. Sang komandan pun penuh bangga menatap anak semut itu. Pembicaraan mereka pun terpaksa dihentikan. Kroooosssssaaakkkk… terdengar pepohonan kembali tumbang, sehingga membuat tanah pijakan mereka bergetar dan burung-burung pun terbang dengan penuh kegelisahan karena telur, anak dan rumah mereka tak terselamatkan . Semut kecil pun langsung bergegas ke tempat kejadian. Di depan ia melihat sebatang pohon tua yang sedang sekarat sambil berlinang air mata. Semut kecil pun bertanya,”mengapa engkau menangis wahai teman ku?”. Pohon tua menjawab: “aku menyesal karena tidak dapat lagi menolong manusia yang berada di bawah bukit ini kalau hujan datang, akar-akar ku takkan mampu lagi menahan air yang mengalir ke kaki bukit ini, kelak gunung ini tak lama lagi akan longsor.” Pohon tua kembali menitikkan air mata. “Wahai teman ku apa yang bisa ku lakukan untuk menolong mu yang sedang sekarat ini??” Tanya semut. “Bawalah aku bersama mu dan tanami aku kembali.” Ujarnya. “Itu tidak mungkin wahai teman ku, aku terlalu kecil untuk bisa menolong dirimu apalagi membawa mu.” Belum selesai semut berbicara, pohon tua pun berkata : ”makan dan bawalah biji-biji ini bersamamu dan letakkan lah ia ditempat yang kau anggap cocok karena ku takut manusia tidak mau lagi berpikir untuk masa depan bumi ini”. Semut pun mengangguk lirih. Kapan manusia sadar untuk menyelamatkan bumi ini, apakah menunggu bencana datang menghampiri mereka? Apakah mereka mempunyai jiwa-jiwa seperti semut dan pohon tua yang peduli tentang kelanjutan bumi ini? Atau kah selalu tak peduli dengan apa yang telah mereka perbuat?? Ataukah mereka baru berbuat setelah keluarga mereka menjadi korban?? Pertanyaan ini harus kita resapi dalam-dalam, dan untuk menjawabnya tanyalah pada diri kita sendiri.


0 komentar:
silahkan meninggalkan pesan, terima kasih!!!