Apa Pekerjaan yang Cocok untuk saya??

Pada waktu kita masih anak-anak, katakanlah pada saat menjalani Sekolah Dasar (SD), tak terbersit sedikit pun pertanyaan "Nanti saya kerjanya ap?". Tapi lebih sering seseorang lain menanyakan nanti kamu mau jadi apa? Mungkin spontan kita menjawab, "jadi Pilot", atau "Dokter" dan lainnya. Waktu terus berlalu, SMP, SMA, sudah dijalani, terakhir setelah menyelesaikan Strata-1 pertanyaan tadi yang sebelumnya mulai terpikirkan. Karena biasanya pada saat semester akhir (S1) kita sudah memikirkan kita mau ke mana, kerja di mana.

Tapi meskipun kita sudah membuat list pekerjaan yang akan ditekuni apabila telah selesai kuliah nyatanya tidak selamanya manis. Kadang orang tua menuntut anaknya menjadi pegawai negeri sipil (PNS), tentara, Bidan, Dokter atau Pilot, namun pada kenyataannya kita yang menjalani terkadang tidak mampu memenuhi ekspektasi Orang tua. Ya pada akhirnya yang namanya pekerjaan yang dulu kita harapkan "tidak terwujud". Kenapa bisa terjadi? Alasannya banyak, mungkin tidak lulus waktu tes karena saingannya banyak, money politic, faktor ketidakberuntungan. Pekerjaan yang seharusnya sesuai dengan pendidikan yang ditempuh terkadang tidak terwujud. Katakanlah saya tamatan S1-Kesehatan Masyarakat namun pekerjaannya kok di Bank (mungkin alasannya biar sehat), Dagang dan sebagainya. Namun yang perlu kita pahami adalah, "apa pun pekerjaan yang telah kita tekuni, syukurilah. Karena di balik itu banyak sekali pembelajaran yang bermakna. Mulai sekarang, apa pun profesi yang telah kita tekuni harus kita jalani dengan sepenuh hati,.


0 komentar:

silahkan meninggalkan pesan, terima kasih!!!

Akankah ada yang namanya “Perubahan?”

Seperti Pemilu-pemilu sebelumnya, masing-masing partai berusaha mencari suara agar dapat meraup suara sebanyak-banyaknya. Yang tujuannya tidak lain adalah untuk mewakili atau mengisi di Parlemen. Apakah setelah pemilu Caleg ‘terpilih” akan memikirkan nasib rakyat yang telah memilihnya? Tentu jawabannya hanya mereka yang tahu.
Pemilu, selalu erat kaitannya dengan money politic, ada suara, ada uang. Hal ini lah yang telah mendarah daging di masyarakat kita. Masyarakat tidak mau berpikir panjang ke depan. Kalau tidak menerima uang yang diberikan oleh partai/ caleg saat ini, tahun depan pasti tidak akan mendapatkan hal yang sama. Jadi masyarakat kita rela menjual 1 suara mereka yang ditukarkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Karena kenyataannya, setelah salah satu partai menang maupun caleg, masyarakat tetap akan bertahan dengan kemiskinannya.
Sebenarnya masyarakat menginginkan yang namanya perubahan, tapi janji demi janji tahun demi tahun, pemilu demi pemilu masyarakat tetap akan terbelit dengan yang namanya kemiskinan.
Kemiskinan sendiri menjadi lading yang subur bagi partai, bagaimana cara mengarahkan massa yang hanya mau dibayar dengan nasi bungkus. Ironi, itulah pesta demokrasi saat ini. Pesta yang diharapkan akan membawa perubahan, namun perubahan tidak kunjung tiba.

0 komentar:

silahkan meninggalkan pesan, terima kasih!!!

Perumahan dan Lingkungan

Setiap manusia dimanapun berada membutuhkan tempat untuk tinggal yang disebut rumah. Rumah berfungsi sebagai tempat untuk melepaskan lelah, tempat bergaul dan membina rasa kekeluargaan diantara anggota keluarga, tempat berlindung dan menyimpan barang berharga, dan rumah juga merupakan status lambang sosial (Azwar, 1996; Mukono, 2000).
Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar selain makanan dan pakaian bagi penduduk. Permintaan unit rumah akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Di lain pihak, terbatasnya lahan untuk pemukiman dan penawaran perumahan hanya tertuju pada suatu golongan masyarakat tertentu. Hal ini merupakan kendala bagi sebagi
an besar masyarakat dalam memenuhi kebutuhan perumahannya dan secara tidak langsung berpengaruh pada tingginya harga rumah, sedangkan tingkat pendapatan penduduk relatip rendah. Dengan demikian, banyak rumah tangga menempati rumah yang kurang layak, baik dipandang dari segi kesehatan lingkungan maupun luas lantai perkapita (Ebenhaezer, 2000).
Secara umum masyarakat golongan ekonomi rendah lebih banyak mengalami masalah perumahan dibanding masyarakat dengan tingkat ekonomi yang baik. Masalah utama yang perlu diperhatikan adalah pengadaan serta kelengkapan sarana perumahan. Rumah yang layak sebaiknya mampu memenuhi syarat kesehatan penghuninya (Ebenhaezer, 2000).
Lingkungan perumahan memiliki berbagai variabel diantaranya: jenis dinding, lantai, sumber air, sumber penerangan, saluran pembuangan air, cara pembuangan sampah dan lain-lain. Variabel-variabel lingkungan perumahan tersebut harus memiliki kualitas standard yang didasarkan atas penilaian mutu material yang digunakan serta cara dan bentuk penggunaannya.
Persyaratan Rumah Sehat
Kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman adalah kondisi fisik, kimia, dan biologik di dalam rumah, di lingkungan rumah dan perumahan, sehingga memungkinkan penghuni mendapatkan derajat kesehatan yang optimal. Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukinan adalah ketentuan teknis kesehatan yang wajib dipenuhi dalam rangka melindungi penghuni dan masyarakat yang bermukim di perumahan dan/atau masyarakat sekitar dari bahaya atau gangguan kesehatan.
Pemukiman adalah bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan hutan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan atau pedesaan. Pemukiman berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan (UU RI No. 4/1992).
Pemukiman yang baik terdiri dari kumpulan rumah yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukungnya seperti sarana jalan, saluran air kotor, tempat sampah, sumber air bersih, lampu jalan, bebas banjir dan lain-lain. Standar arsitektur bangunan terutama untuk pemukiman umum pada dasarnya ditujukan untuk menyediakan rumah tinggal yang cukup baik dalam bentuk desain, letak dan luas ruangan, serta fasilitas lainnya agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga atau dapat memenuhi persyaratan rumah tinggal yang sehat dan menyenangkan.
Rumah harus sehat agar penghuninya dapat bekerja secara produktif. Konstruksi rumah dan lingkungannya yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor risiko sebagai sumber penularan berbagai penyakit, khususnya penyakit yang berbasis lingkungan.

0 komentar:

silahkan meninggalkan pesan, terima kasih!!!