Akankah ada yang namanya “Perubahan?”
Seperti Pemilu-pemilu sebelumnya, masing-masing partai
berusaha mencari suara agar dapat meraup suara sebanyak-banyaknya. Yang tujuannya
tidak lain adalah untuk mewakili atau mengisi di Parlemen. Apakah setelah
pemilu Caleg ‘terpilih” akan memikirkan nasib rakyat yang telah memilihnya? Tentu
jawabannya hanya mereka yang tahu.
Pemilu, selalu erat kaitannya dengan money politic, ada
suara, ada uang. Hal ini lah yang telah mendarah daging di masyarakat kita. Masyarakat
tidak mau berpikir panjang ke depan. Kalau tidak menerima uang yang diberikan
oleh partai/ caleg saat ini, tahun depan pasti tidak akan mendapatkan hal yang
sama. Jadi masyarakat kita rela menjual 1 suara mereka yang ditukarkan untuk
kebutuhan hidup sehari-hari. Karena kenyataannya, setelah salah satu partai
menang maupun caleg, masyarakat tetap akan bertahan dengan kemiskinannya.
Sebenarnya masyarakat menginginkan yang namanya perubahan,
tapi janji demi janji tahun demi tahun, pemilu demi pemilu masyarakat tetap
akan terbelit dengan yang namanya kemiskinan.
Kemiskinan sendiri menjadi lading yang subur bagi partai,
bagaimana cara mengarahkan massa yang hanya mau dibayar dengan nasi bungkus. Ironi,
itulah pesta demokrasi saat ini. Pesta yang diharapkan akan membawa perubahan,
namun perubahan tidak kunjung tiba.
0 komentar:
silahkan meninggalkan pesan, terima kasih!!!