Hal kecil yang terlupakan

Pagi itu Yuni sudah bersiap-siap menuju ke kampusnya. Kampus Yuni sich lumayan dekat sekitar 1,5 km jika ditempuh dengan kendaraan bermotor dan apabila tidak terjebak macet. Seperti biasanya sebelum jam 6 pagi Yuni sudah siap dengan tas sampingnya yang berwarna hijau daun itu ditambah lagi dengan jilbabnya yang hitam itu makin menambah nilai penampilannya sebagai sosok wanita. Di kampusnya boleh dibilang hanya dia yang memiliki tas yang berwarna hijau itu sebab tas itu adalah satu-satunya buatan ibundanya yang sempat ia bawa ketika ia hendak meninggalkan tanah kelahirannya. Semalaman Yuni telah menghabiskan waktunya hanya untuk membolak-balik catatan yang agak sedikit buram karenaterkena air hujan yang kemudian ia tulis ulang halaman demi halaman, sesekali ia buka buka yang berjumlah 517 halaman itu yang tak lain adalah buku Anatomi-Fisiologi Lanjutan terbitan Universitas Gajah Mada Press. Wajar saja buku itu menjadi andalanya dalam malahap materi yang diberikan oleh dosen dikampusnya. Dalam hal belajar Yuni patut diacungi jempol, sampai-sampai ia rela tidak tidur semalaman, termasuk malam itu. Ia tidak tidur karena besok ada ujian tengah semester.
Alarm handphone jadul pemberian pamannya yang masih setia menemani hari-harinya melengking dengan keras sambil melantunkan irama “kucing garong” yang telah menandakan jam 5.30 tentunya agak terdengar kurang bersahabat bagi orang-orang yang sedang dibuai mimpi di pagi hari itu. Maklum suara yang dihasilkan oleh telepon genggamnya masih monotone, lainnya halnya dengan teman-teman di lingkungan kampusnya yang telah maju berlangkah-langkah yang bisa memainkan format MP3 hingga MP10 kalau ada, dari suara bayi ngakak hingga suara mak lampir yang kebelet pipis.
Yuni bergegas menuju kamar mandi. Setelah 15 menit ia keluar. Dengan wajah yang lelah ia raih handuknya yang bertuliskan ”LIFE and LOVE” sambil memegang perutnya yang terasa sakit, ia terkena diare. Pikirannya jadi kalut, sementara jam sudah menunjukkan jam 06.55. sedangkan untuk mencapai kampusnya ia memerlukan waktu sekitar 15 menit dengan kata lain ia akan telat. Dengan langkah berat ia menuju kamar untuk mengambil kunci motor kesayangannya. Hampir 10 menit ia habiskan untuk mencari kunci tersebut tetapi tidak ia temukan. Pikirannya menjadi tambah kacau karena jam dinding telah menunjukkan jam 07.15. Tanpa sengaja ia merogoh kantung yang ada di bagian depan roknya, kunci motornya terselip dengan manis di sana. Bergegas ia langsung menuju ke garasi dan langsung menghidupkan motornya tanpa memberikan kesempatan pada motor untuk dipanaskan telebih dahulu. Dengan penuh rasa tegang mengingat ujian, Yuni melaju meninggalkan kosnya tanpa sempat pamitan pada teman sebelah kamarnya. Yuni kembali melirik jam tangannya yang telah menunjukkan jam 07.30. Ia telat Setengah km meninggalkan kosnya, tiba-tiba motornya pun ogah untuk melanjutkan perjalanan dikarenakan persediaan bensin yang ada disetiap sendi motornya kering tanpa tersisa. Ia pun semakin frustasi. Dengan wajah kebingungan ia mendorong motornya itu menuju pom bensin yang berjarak 370 meter. Untung saja ada bapak-bapak yang merasa kasihan dan memberikan pertolongan membelikan 1 liter bensin dalam botol. Yuni akhirnya bisa lega walaupun ia harus telat asalkan ia bisa melanjutkan perjalanan menuju kampusnya. Dalam perjalanan menuju kampusnya, di jalan utama ada razia yang dilakukan oleh POLRI, memang tidak seperti biasanya. Yuni pun terjebak razia kelengkapan surat-surat kendaraan bermotor. Yuni terpaksa berurusan dengan Polisi dikarenakan ia tidak membawa SIM dan STNKnya, dompetnya tertinggal di kamar.
Di atas adalah salah satu dari beribu kisah yang mungkin sering kita jumpai atau kita alami sendiri. Ada hal-hal kecil yang kita lupakan yang ternyata membawa andil besar dalam kehidupan kita. Teman, memang kita selaku manusia takkan pernah luput dari lupa. Tapi hal itu bisa kita minimalisir dengan cara yang kita buat sendiri, jangan seperti Yuni yang tidak dapat mengikuti ujian tengah semesternya.
Alarm handphone jadul pemberian pamannya yang masih setia menemani hari-harinya melengking dengan keras sambil melantunkan irama “kucing garong” yang telah menandakan jam 5.30 tentunya agak terdengar kurang bersahabat bagi orang-orang yang sedang dibuai mimpi di pagi hari itu. Maklum suara yang dihasilkan oleh telepon genggamnya masih monotone, lainnya halnya dengan teman-teman di lingkungan kampusnya yang telah maju berlangkah-langkah yang bisa memainkan format MP3 hingga MP10 kalau ada, dari suara bayi ngakak hingga suara mak lampir yang kebelet pipis.
Yuni bergegas menuju kamar mandi. Setelah 15 menit ia keluar. Dengan wajah yang lelah ia raih handuknya yang bertuliskan ”LIFE and LOVE” sambil memegang perutnya yang terasa sakit, ia terkena diare. Pikirannya jadi kalut, sementara jam sudah menunjukkan jam 06.55. sedangkan untuk mencapai kampusnya ia memerlukan waktu sekitar 15 menit dengan kata lain ia akan telat. Dengan langkah berat ia menuju kamar untuk mengambil kunci motor kesayangannya. Hampir 10 menit ia habiskan untuk mencari kunci tersebut tetapi tidak ia temukan. Pikirannya menjadi tambah kacau karena jam dinding telah menunjukkan jam 07.15. Tanpa sengaja ia merogoh kantung yang ada di bagian depan roknya, kunci motornya terselip dengan manis di sana. Bergegas ia langsung menuju ke garasi dan langsung menghidupkan motornya tanpa memberikan kesempatan pada motor untuk dipanaskan telebih dahulu. Dengan penuh rasa tegang mengingat ujian, Yuni melaju meninggalkan kosnya tanpa sempat pamitan pada teman sebelah kamarnya. Yuni kembali melirik jam tangannya yang telah menunjukkan jam 07.30. Ia telat Setengah km meninggalkan kosnya, tiba-tiba motornya pun ogah untuk melanjutkan perjalanan dikarenakan persediaan bensin yang ada disetiap sendi motornya kering tanpa tersisa. Ia pun semakin frustasi. Dengan wajah kebingungan ia mendorong motornya itu menuju pom bensin yang berjarak 370 meter. Untung saja ada bapak-bapak yang merasa kasihan dan memberikan pertolongan membelikan 1 liter bensin dalam botol. Yuni akhirnya bisa lega walaupun ia harus telat asalkan ia bisa melanjutkan perjalanan menuju kampusnya. Dalam perjalanan menuju kampusnya, di jalan utama ada razia yang dilakukan oleh POLRI, memang tidak seperti biasanya. Yuni pun terjebak razia kelengkapan surat-surat kendaraan bermotor. Yuni terpaksa berurusan dengan Polisi dikarenakan ia tidak membawa SIM dan STNKnya, dompetnya tertinggal di kamar.
Di atas adalah salah satu dari beribu kisah yang mungkin sering kita jumpai atau kita alami sendiri. Ada hal-hal kecil yang kita lupakan yang ternyata membawa andil besar dalam kehidupan kita. Teman, memang kita selaku manusia takkan pernah luput dari lupa. Tapi hal itu bisa kita minimalisir dengan cara yang kita buat sendiri, jangan seperti Yuni yang tidak dapat mengikuti ujian tengah semesternya.
0 komentar:
silahkan meninggalkan pesan, terima kasih!!!